Beli Bukunya
Dengarkan Lagunya

Anak Burung Walet

Sampai suatu saat, anak-anak walet menjadi besar. Lalu induknya akan mendorong anak-anak itu keluar dari sarang.

RUMAH KADIPATEN, begitu sebutan kami untuk rumah kakek yang luas di Purwokerto. Dibangun pada zaman penjajahan Belanda, plafonnya dibuat dari besi, tingginya sekitar lima meter. Rumah ini sudah lama beralih pemilik dan berubah fungsi, tetapi hingga kini, struktur bangunannya masih terlihat sama.

Sewaktu kecil, kira-kira umur 5-6 tahun, aku sering diajak ayah menghabiskan liburan di rumah kakek. Di pojok rumah selalu ada sarang burung walet.

Sambil memandang sarang itu, ayah berkata, “Lihat, burung walet jantan selalu terbang mencari makan untuk istri dan anak-anaknya. Anak-anak walet yang baru lahir dijaga oleh induk walet.”

Sebentar menghela nafas, ayah melanjutkan, “Sampai suatu saat, anak-anak walet menjadi besar. Lalu induknya akan mendorong anak-anak itu keluar dari sarang.”

Saat jatuh melayang antara sarang dan tanah, anak walet harus mengepakkan sayapnya untuk terbang. Jika tidak bisa terbang, ia akan jatuh terhempas ke tanah dan mati. Yang tidak bisa terbang adalah mereka yang lemah atau cacat.

Itulah pelajaran terbang pertama, tanpa kesempatan kedua. Induk walet tidak pernah tahu manakah di antara anak-anaknya yang lemah atau cacat. Ia baru tahu setelah mendorong anaknya keluar dari sarang.

Sebuah seleksi alam yang sangat sederhana: terbang atau mati.

Anak walet yang berhasil terbang, tidak akan kembali lagi ke sarangnya. Ia akan terus terbang mencari makan. Ia kemudian berkeluarga dan membangun sarang baru untuk mereka. Induk walet pun tidak akan bertemu lagi dengan anaknya.

Aku yakin, saat induk walet mendorong anaknya keluar dari sarang adalah momen yang sangat berat baginya, namun sekaligus penuh kebahagiaan. Berat karena induk walet harus berpisah dengan anaknya dan tidak akan bertemu lagi, hidup atau mati. Bahagia karena induk walet mengiringinya dengan doa, agar anaknya kuat dan selamat, tidak jatuh dan mati.


Setelah tamat Sekolah Menengah Atas (SMA) di Purwokerto, aku pamit kepada orangtuaku untuk mengikuti ujian seleksi masuk Institut Teknologi Bandung (ITB) di Semarang. Saat itu ayah sedang sakit, ibu yang mengantarku ke terminal bus Damri di depan bioskop Elita di Purwokerto.

Tiba di terminal, langit masih gelap. Aku ingat betul, saat itu sekitar jam 5 pagi. Sesaat setelah aku masuk ke dalam bus, gerimis mulai turun. Aku minta ibu segera pulang ke rumah. Tetapi ibu bergeming.

Ibu tetap berdiri di situ, memegangi payung di bawah guyuran hujan yang membasahi bumi. Dari jendela bus aku melihat ibu terus menatap ke arahku sampai bus melaju.

Melihat ibuku, aku teringat cerita anak burung walet yang pernah dituturkan ayahku. “Pergilah, Nak. Berhasillah, kamu,” seolah aku mendengar ibu berucap dalam hatinya. “Kamu akan pergi jauh dan mungkin tidak akan kembali.”

Ini adalah sebuah momen yang takkan pernah aku lupakan. Emosi dalam jiwaku berkecamuk setiap kali bayangan peristiwa ini menyeruak dalam pikiranku. Kejadian yang singkat, tapi begitu bermakna dalam perjalanan hidupku.


Lima tahun aku melewati hari-hariku di Unit Kerja Presiden bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4), tepatnya mulai 22 Oktober 2009 hingga 20 Oktober 2014. Tempat yang sangat menyenangkan dan membanggakan.

Aku bekerja dengan orang-orang brilian yang memiliki etos kerja luar biasa. Ya, UKP4 juga merupakan “kampus” tempat berkumpulnya anak-anak muda, atau setidaknya mereka yang berjiwa muda. Mereka bekerja keras menyiapkan diri untuk menghadapi dunia nyata yang sebenarnya.

Berkali-kali aku katakan kepada mereka, “Tidak selamanya kamu ada di sini. Jadikanlah UKP4 tempatmu belajar, sebelum kamu melanjutkan perjalananmu.”

Selama aku di UKP4, ada sembilan anak muda yang melanjutkan studinya ke luar negeri. Aku bangga melepas mereka ke sekolah-sekolah terbaik di dunia. Beberapa staf lain melanjutkan karier ke lembaga pemerintahan atau organisasi di mana mereka bisa terbang lebih tinggi. Aku sangat beruntung bisa bergaul dengan orang-orang hebat seperti mereka.

Sesaat sebelum mereka berangkat meninggalkan UKP4, aku biasanya menceritakan kisah anak burung walet kepada mereka seraya berpesan, “Doaku untukmu: kamu terbang. Aku tidak mengharapkanmu kembali atau gagal.”

Menurutku, kebahagiaan terbesar seorang pemimpin adalah ketika ia berhasil menempa anak buahnya sehingga mampu melakukan hal-hal besar, lebih dari yang pernah ia lakukan.

Aku tidak dapat memungkiri, di saat-saat seperti itu kebahagiaanku begitu meluap. Tetapi kesedihanku pun merapat kuat. Yang aku tahu, kebahagiaan dan doaku jauh lebih besar daripada kesedihanku.

Hatiku berbisik, “Pergilah. Kepakkan sayapmu seperti anak burung walet yang meninggalkan sarang induknya. Terbanglah tinggi, meski itu berarti kita harus terpisah.”

Miliki Bukunya Sekarang

Dengan Rp89 ribu, dapatkan buku dan bonus CD album original soundtrack Bintang Laut yang Berserak. Gratis ongkos kirim untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Hasil penjualan buku ini akan disumbangkan ke
Yayasan Yatim Piatu Nurul Jalal, Tanjung Priok, Jakarta Utara