Beli Bukunya
Dengarkan Lagunya

Berenang dalam Gelap

Lama kelamaan, luapan rasa takut beranjak reda. Hilang, berubah menjadi kenikmatan untuk terus berenang mencapai semenanjung.

Aku suka sekali berenang.

Sejak tahun 1988, saat aku menjabat Direktur Utama PT Tambang Batubara Bukit Asam (PT BA), berenang di malam hari sudah menjadi kebiasaanku. Kebetulan di PT BA ada kolam renang berukuran besar. Aku memilih berenang di malam hari, karena kolam itu tetap terang dengan sorotan banyak lampu.

Setahun berselang, aku pindah tugas menjadi Direktur Utama PT Timah. Karena tidak ada kolam renang, aku melanjutkan kebiasaan berenangku di Pantai Parai Tenggiri, Sungai Liat, Kabupaten Bangka.

Pantai ini bentuknya seperti teluk. Untuk berenang dari tengah pantai ke semenanjung kecil di seberang, lalu kembali ke tepi pantai, kira-kira makan waktu 30 menit. Aku pikir, ini pas untuk menjadi rute berenangku.

Saat itu aku baru tahu, berenang di laut rupanya sangat menyenangkan. Terlebih menjelang senja, saat kegelapan mulai menyelimuti. Ada sensasi tersendiri yang aku rasakan.

Sampai suatu saat batinku yang jahil bertanya, “Kalau aku berenang terus sampai gelap betul, bagaimana rasanya, ya?”

Saking penasaran, sekali waktu aku sengaja berenang setelah maghrib. Saat itu matahari sudah tenggelam, langit pun gelap. Aku pikir itu biasa saja, toh hanya iseng. Tetapi ternyata orang-orang di sekitarku, terutama istriku, menjadi cemas.

Rencanaku terus berjalan. Aku berenang memakai kacamata renang dan snorkel – semacam pipa untuk bernapas saat berenang dengan seluruh wajah berada di bawah permukaan air.

Sampai di tengah laut, aku baru tersadar. Saat gelombang besar menyapu silih berganti, seluruh pandangan di depanku tertutup gulungan air. Aku sama sekali tidak dapat melihat daratan.

Di atas permukaan laut, yang ada hanyalah langit hitam. Apalagi di bawah air, semua gelap gulita. Rasa takut serentak menyeruak. “Di manakah aku?” Pertanyaan itu berulang kali terucap dalam hatiku.

Pertanyaan lain yang lebih menakutkan pun mulai bermunculan, “Apa ada naga atau ikan besar yang mengerikan yang akan memangsaku?”

Kegelisahan itu sempat mengganggu ketenanganku. Tetapi lama kelamaan, entah bagaimana, luapan rasa takut ini beranjak reda. Hilang, berubah menjadi kenikmatan untuk terus berenang mencapai semenanjung.

Dalam perjalanan kembali dari semenanjung, aku berusaha mengintip melalui celah-celah gelombang yang sesekali terbuka di depanku. Secercah cahaya lampu yang berpijar di kejauhan memberiku arah di mana letak daratan.

Aku terus mengayuh tanganku yang mulai pegal, mendekat ke arah cahaya itu. Akhirnya tanganku menyentuh pasir. Daratan!

Segera aku berdiri dan berjalan perlahan, separuh badanku masih di dalam air. Ketika kakiku yang basah tidak lagi menyentuh air, semilir angin ganti memelukku.

Ketakutan yang sebelumnya sempat mendominasi pikiranku, tak sedikit pun tersisa. Yang ada hanyalah rasa syukur dan keberanian untuk melangkah ke depan. Aku pulang ke rumah dinas, berkumpul kembali dengan orang-orang yang kucintai.


Inilah caraku memelihara rasa takut.

Dari waktu ke waktu, aku suka mencari kesempatan menciptakan situasi seperti itu. Saat ketakutan dan keberanian bercampur aduk, tidak jelas mana yang mendominasi siapa; di saat itulah aku harus mencari titik keseimbangan antara keberanian yang kadang tak terkendali, dengan ketakutan yang kadang membuat kita tak bisa bergerak.

Dalam kehidupan berorganisasi, kita selalu punya rasa takut saat harus mengambil keputusan. Apalagi jika keputusan itu membawa pengaruh besar bagi orang-orang di sekitar kita.

Berbagai kekhawatiran muncul. Apa benar kinerja organisasi akan membaik? Bagaimana nasib orang-orang yang harus di-PHK (Pemutusan Hubungan Kerja)? Apakah aku akan dibenci karena keputusanku ini? Apa lagi yang belum aku pikirkan?

Kalau kita memiliki rasa khawatir atau takut seperti itu, bersyukurlah, artinya, otak kita sehat. Tetapi kita perlu mengolah rasa takut itu menjadi sesuatu yang produktif, bukan malah menghalangi kita untuk mengambil keputusan yang baik. Yang bijaksana.

Menariknya, menurutku hanya alam yang dapat memberikan rasa takut yang murni, yang bersih, dan tidak ditempeli motif-motif kepentingan apa pun.

Alam memberi terang-gelap, udara sejuk-angin badai, kering-banjir, suasana damai-kelam, keindahan bahkan kehancuran. Kalau timbul rasa takut saat kita menyaksikan alam yang sedang menunjukkan kekuatannya, itulah rasa takut yang paling alami.

Selama ini aku pun selalu berusaha memelihara rasa takutku dan melatihnya lewat pengalaman bersama alam. Perjalanan menembus hutan di malam hari atau masuk ke dalam gua yang gelap, selalu mendatangkan rasa takut. Di saat-saat itulah muncul kesempatan untuk menguji keberanianku.

Saat menghadapi tugas baru, hikmah pelajaran ini bisa menjadi kekuatan yang luar biasa dalam diri kita. Bukankah setiap kali menghadapi tugas baru, selalu ada rasa takut dalam diri kita? Bohong besar jika ada yang berkata dirinya memulai sesuatu tanpa rasa takut. Aku rasa, orang itu hanya berusaha menyangkal ketakutannya saja.

Tugas yang pernah aku terima sebagai Direktur Utama Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Menteri, Kepala Unit Kerja Presiden, apalagi Kepala Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Nanggroe Aceh Darussalam dan Nias, selalu memunculkan rasa takut yang nyata dalam diriku. Tapi aku terus berusaha mengelola rasa takutku itu.

Tanpa rasa takut, organisasiku bisa saja tumbuh semrawut. Aku bisa mengambil segala keputusan dengan cepat, tetapi belum tentu tepat.

Yang aku inginkan, tugasku sebagai pemimpin bisa aku laksanakan dengan bijak. Arah yang aku buat untuk orang-orang di organisasiku bisa dijalankan dengan baik. Aku terus berusaha menjaga hati nurani dan integritas, yang selalu ada dalam batas ketakutan dan keberanian.

Pada akhirnya, kita semua hanya bisa berupaya mencari keseimbangan antara ketakutan dan keberanian. Apakah kita sudah berada pada titik keseimbangan itu? Wallahu a’lam.

Miliki Bukunya Sekarang

Dengan Rp89 ribu, dapatkan buku dan bonus CD album original soundtrack Bintang Laut yang Berserak. Gratis ongkos kirim untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Hasil penjualan buku ini akan disumbangkan ke
Yayasan Yatim Piatu Nurul Jalal, Tanjung Priok, Jakarta Utara