Beli Bukunya

Pengantar

ALAM, IBU kita. Semakin dalam kita mengenal alam, semakin banyak bekal yang kita dapat darinya. Semakin dalam rasa sayang kita terhadap alam, semakin kuat pula kita memaknai hidup kita.

Karena menjadi manusia adalah menjadi bagian dari alam.

Kenalilah alam. Sayangi dia. Saat kita merawat, mengelola sambil menjaga keindahan dan kehidupan di dalamnya, kita pun memupuk kelangsungan hidup seluruh makhluk Tuhan.

Jangan pernah kita melupakan atau bahkan melukai alam, jika kita tidak ingin mencelakakan diri kita sendiri. Janganlah pernah merusaknya. Ketika alam marah, sungguh dahsyat kekuatan amarahnya.

Ketika kita merasa perlu memotong dahan atau menebang pohon, tanyalah kepada diri kita: apa benar-benar perlu?

Kebiasaan bertanya seperti ini meresap dan membentuk pribadiku sejak kecil. Saat bergabung dengan Wanadri, Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung di Bandung, aku belajar lebih banyak lagi tentang alam. Kecintaanku untuk mengamati alam pun kian dalam.

Ya, kita hidup bersama alam. Salah sekali jika seseorang berkata dirinya berhasil menaklukkan alam. Karena manusia takkan pernah bisa menaklukkan alam, tetapi mampu mengakrabinya.

Kita perlu hidup berdamai dengan alam. Kita pun bisa terus belajar bersama alam yang tidak pernah berhenti memberi berkah kepada kita.

Jelas aku bukan orang hebat dalam menjelajah alam. Aku bukan pendaki gunung Everest, bukan pula penelusur sungai yang kawakan. Aku ini hanya pendaki gunung biasa, pemanjat tebing biasa. Aku juga penelusur pantai, penyelam, dan penerbang layang biasa.

Aku hanyalah seorang generalis, bukan seorang jagoan atau pun juara. Tetapi aku beruntung punya kesempatan untuk mencoba berbagai jenis petualangan di alam. Dan dari situ aku mulai mengetahui banyak hal.

Empat belas kisah manusia yang hidup bersama alam dalam buku ini sering aku sampaikan sebagai analogi atau perumpamaan dalam berbagai momen hidupku. Inilah kisah-kisah yang aku alami, cermati, dan yakini sendiri; yang paling tidak telah membentuk cara pandangku terhadap dunia dan bagaimana aku selama ini menyikapi berbagai tantangan hidupku.

Aku tidak menelusuri kebenaran ilmiah dari kisah-kisah yang dituliskan di sini. Aku juga tidak berniat melakukannya. Di bagian belakang buku ini tidak ada catatan referensi. Tulisan-tulisan ini hanyalah pembelajaran hidup dari pengalaman dan ramuan pemahamanku sendiri.

Seperti bintang laut yang sering kita lihat berserakan di sepanjang pantai, mereka bisa saja mati sia-sia jika tidak ada ombak yang menyeretnya kembali ke laut; atau manusia yang melemparnya.

Dengan suasana dan logika sederhana yang ada di dalamnya, aku berharap kisah-kisah yang aku “lempar” ini bisa memberi manfaat bagi yang membacanya. Mereka yang bergiat dalam dunia masing-masing, di dalam pekerjaan maupun kehidupan sehari-hari.

Karena sejujurnya aku pun bukan orang yang suka menceritakan pengalaman-pengalamanku kepada anak-cucuku. Aku pikir, inilah kesempatanku untuk mewariskan sesuatu kepada mereka.

Selamat membaca. Selamat menikmati. Jika Anda menemukan hikmah di dalamnya, syukurilah; karena alam ini sungguh indah.

Miliki Bukunya Sekarang

Dengan Rp89 ribu, dapatkan buku dan bonus CD album original soundtrack Bintang Laut yang Berserak. Gratis ongkos kirim untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Hasil penjualan buku ini akan disumbangkan ke
Yayasan Yatim Piatu Nurul Jalal, Tanjung Priok, Jakarta Utara