Beli Bukunya

Profil

Kuntoro Mangkusubroto

Sekilas Perjalanan Hidupku

Lahir di Purwokerto, 14 Maret 1947 sebagai anak pertama
dari pasangan ibu dosen bahasa Inggris dan ayah kepala lapangan minyak

Menikah dengan Tuti Hermiatin pada tahun 1971
dan memiliki 5 anak laki-laki

Anggota Wanadri, Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung,
sejak 1969

Dosen ITB sejak 1972, Pendiri Sekolah Bisnis & Manajemen (SBM) ITB
dan kini mengajar Pengambilan Keputusan dan Negosiasi

Lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB),
Northeastern University dan Stanford University Amerika Serikat

Master Teknik Industri, Master Teknik Sipil, Doktor dan Profesor
bidang Analisis Keputusan, dan Doktor Kehormatan bidang Kemanusiaan

Pernah menjabat Direktur Utama PT Tambang Batubara Bukit Asam,
PT Tambang Timah, dan PT PLN

Menteri Pertambangan dan Energi Kabinet Pembangunan VII
dan Kabinet Reformasi Pembangunan (1998-1999)

Memimpin upaya pemulihan pascatsunami dan gempa di Aceh dan Nias
sebagai Kepala Badan Pelaksana BRR NAD-Nias (2005-2009)

Kepala Unit Kerja Presiden bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4)
pada Kabinet Indonesia Bersatu II (2009-2014)

Pertama kali aku menghirup segarnya udara bumi pada 14 Maret 1947 di Purwokerto. Aku dengar Jumat itu ibu dan ayahku senang sekali, mungkin karena aku adalah yang pertama dari lima anak yang mereka lahirkan ke dunia.

Ibuku adalah seorang dosen bahasa Inggris di Universitas Jenderal Soedirman, sedangkan ayahku bekerja di dunia pertambangan minyak. Tugas ayah yang berpindah-pindah kota membuatku bersekolah di berbagai tempat. Bayangkan, ada sebelas Sekolah Rakyat (sekarang Sekolah Dasar) dan Sekolah Menengah Pertama yang pernah aku singgahi. Saat aku menduduki bangku Sekolah Menengah Atas, barulah kami pulang kampung.

Tetapi hanya tiga tahun berselang, aku kembali mengembara untuk kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB), jurusan Teknik Industri. Saat kuliah, persisnya tahun 1969, aku bergabung dengan Wanadri, Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung yang sangat aku banggakan.

Tahun 1971 adalah tahun yang sangat istimewa. Aku menikahi seorang gadis yang aku taksir sejak SMA. Tuti Hermiatin namanya, kembang sekolahku! Seorang arsitek yang kemudian merelakan profesinya demi membesarkan kelima anak laki-laki kami dengan penuh perhatian. Dia juga ahli membuat quilt, selimut kain dengan pola yang sangat cantik.

Setamat ITB pada tahun 1972, aku langsung mengajar di almamaterku itu. Baru sebentar, aku kemudian memperoleh beasiswa untuk melanjutkan studi di Northeastern University, Amerika Serikat. Setahun di sana, aku memutuskan hijrah ke Stanford University, juga di Amerika Serikat, dan meraih dua gelar Master sekaligus. Satu di bidang Teknik Industri pada tahun 1976 dan satu lagi Teknik Sipil pada tahun 1977.

Sesampainya di tanah air, aku kembali mengajar di ITB sambil melanjutkan studiku. Tahun 1982, aku mengantongi gelar Doktor bidang Analisis Keputusan. Berbekal penelitianku di Stanford University, aku juga menggagas pendirian Program Pascasarjana Transportasi ITB pada tahun 1983 dan aku bertugas sebagai Ketua Program yang pertama.

Aku baru masuk ke dalam pemerintahan pada tahun 1983, ketika Presiden Soeharto memulai periode Kabinet Pembangunan IV. Saat itu aku diminta oleh Ginandjar Kartasasmita untuk membantunya sebagai Staf Ahli Menteri Muda Urusan Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri (UP3DN). Tahun berikutnya aku menjadi Pembantu Asisten Administrasi Menteri Sekretaris Negara.

Selesai masa kerja kabinet di tahun 1988, aku diangkat menjadi Direktur Utama PT Tambang Batubara Bukit Asam (PT BA). Hanya setahun di Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang beroperasi di Tanjung Enim, Sumatera Selatan, itu, aku lalu dipindahtugaskan menjadi Direktur Utama PT Tambang Timah dan bermarkas di Bangka.

Pada tahun 1993, aku masuk lagi ke dalam pemerintahan sebagai Direktur Jenderal Pertambangan Umum di Departemen Pertambangan dan Energi. Pada tahun 1997, aku berganti jabatan menjadi Deputi Bidang Perencanaan di Badan Koordinasi Penanaman Modal selama setahun.

Aku menapak masuk ke dalam jajaran eksekutif pemerintahan sebagai Menteri Pertambangan dan Energi Kabinet Pembangunan VII pada tahun 1998. Namun gejolak reformasi dan berhentinya Presiden Soeharto membuat kabinet ini berumur hanya dua bulan. Ketika Presiden BJ Habibie mengambil alih pemerintahan dengan membentuk Kabinet Reformasi Pembangunan, aku diminta tetap memegang jabatan Menteri Pertambangan dan Energi tahun 1998-1999.

Tidak sampai dua tahun Presiden BJ Habibie menjabat, Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) naik menggantikannya. Pada tahun 2000, Gus Dur mengangkatku sebagai Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Setahun berkarya di BUMN ini, aku pun kembali ke kampus.

Di ITB aku mengajar Analisis Keputusan dan Penelitian Operasional Tingkat Lanjut. Bersamaan dengan itu, aku juga merintis Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) ITB yang akhirnya resmi berdiri pada penghujung tahun 2003. Aku sempat berpikir bahwa aku akan bisa terlibat penuh bersama rekan-rekanku membangun SBM ITB di tahun-tahun pertamanya. Tetapi jejak hidupku kembali berubah drastis.

26 Desember 2004, gempa bumi dan tsunami memporak-porandakan Aceh. 28 Maret 2005, giliran Nias yang diguncang gempa bumi. Untuk memimpin upaya pemulihan Aceh dan Nias, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberiku tanggung jawab sebagai Kepala Badan Pelaksana Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Nanggroe Aceh Darussalam dan Nias pada tahun 2005-2009 sesuai dengan mandat kerja empat tahun BRR.

Sepulang dari Aceh, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengangkatku sebagai Kepala Unit Kerja Presiden bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) selama periode Kabinet Indonesia Bersatu II (2009-2014).

Tahun 2012 adalah tahun bertambahnya dua gelar akademik. ITB memberiku gelar Profesor bidang Analisis Keputusan. Lalu Northeastern University memberiku gelar Doktor Kehormatan bidang Kemanusiaan atas pengalamanku di Aceh dan Nias. Cukup membanggakan, waktu itu aku satu-satunya orang non-Amerika yang dianugerahi gelar serupa.

Kecintaanku pada dunia kampus, berbagi ilmu kepada mahasiswa, memang tidak pernah surut. Di SBM ITB saja aku terus menjalankan peranku sebagai Ketua Dewan Sekolah sejak sekolah ini berdiri. Meskipun nasib membawaku ke berbagai jenis pekerjaan dan posisi, sesungguhnya tidak pernah sekali pun aku sepenuhnya meninggalkan kampus.

Kini tugasku sebagai eksekutif di Kabinet Indonesia Bersatu II sudah selesai. Ini tidak berarti aku mengakhiri pengabdianku kepada nusa dan bangsa tercinta. Meskipun aku tidak tahu ke mana lagi Tuhan akan membuka jalan untukku, aku tahu bahwa aku akan terus berkarya di dunia pendidikan yang senantiasa menjadi rumah bagiku.

Hanya satu harapanku. Aku ingin terus melempar bintang laut yang ada di depanku.

Memberi makna pada roda kehidupan yang tidak pernah berhenti. Membawa sedikit kebaikan demi orang-orang di sekitarku. Seraya terus belajar dari alam yang sangat kucintai.

14 Maret 2015,
Kuntoro Mangkusubroto

Miliki Bukunya Sekarang

Dengan Rp89 ribu, dapatkan buku dan bonus CD album original soundtrack Bintang Laut yang Berserak. Gratis ongkos kirim untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Hasil penjualan buku ini akan disumbangkan ke
Yayasan Yatim Piatu Nurul Jalal, Tanjung Priok, Jakarta Utara