Beli Bukunya
Dengarkan Lagunya
  • Explosion

Raja Babun

Mereka berebut menjadi raja penerus takhta. Perkelahian terus terjadi, hingga muncul babun paling tangguh sebagai pemenangnya

Babun adalah jenis monyet pemakan tumbuhan dan daging yang berlari cepat dan berburu bersama. Secara sosiologis, bisa dibilang babun ini binatang yang canggih. Mereka punya tatanan dalam komunitasnya. Hidup mereka terorganisasi, ada hierarki, tata perilaku, dan etika.

Dalam hierarkinya, sosok babun yang besar, tegap, dengan bahu lebih kuat, dan bercambang panjang menjadi pemimpin. Dialah raja.

Raja babun memiliki banyak babun betina, layaknya lelaki yang berpoligami. Biasanya sang raja hanya duduk-duduk, mengamati dari ketinggian berbagai kegiatan yang dilakukan kelompok atau rakyatnya. Ia terlihat penuh wibawa dan karisma.

Ketika lapar, komunitas babun berburu bersama. Seperti pasukan komando yang kompak, mereka bagi-bagi tugas. Babun muda biasa diberi tanggung jawab melumpuhkan mangsa jinak seperti antelop, sejenis kijang bertanduk panjang berulir. Tetapi jika mereka sangat lapar dan tak menemukan mangsa jinak, bersama kawanan babun yang lebih senior, mereka akan nekat menyerang macan tutul atau cheetah muda yang ditemukannya.

Strategi mereka saat berburu antelop berbeda dengan saat mereka mengincar macan. Mereka berkompromi, raja babun yang menentukan siapa yang menyerang bagian-bagian tertentu mangsa mereka. Setelah mangsa berhasil dilumpuhkan, raja babun mengatur pembagian daging mangsa untuk anggota-anggota kelompoknya.

Waktu terus berjalan. Raja babun menjadi tua. Ia tetap berusaha mengatur rakyatnya, tetapi tidak lagi bisa berlari bersama babun-babun muda. Gerakan raja babun mulai lamban. Babun-babun muda yang penuh ambisi mengamati perubahan ini dengan hati-hati.

Sampai suatu saat yang mereka anggap tepat, mereka menyusun rencana kudeta. Seluruh babun muda ikut bersekongkol. Kalaupun ada yang tidak setuju, mereka tidak akan melakukan perlawanan atas operasi kudeta ini.

Para pemberontak muda memulai usahanya dengan membuat raja babun semakin lemah. Sang raja terus diusik supaya tidak tidur. Ketika raja mulai lelah dan mengantuk, babun-babun muda memukulkan ranting pohon ke tubuh raja babun. “Hey.. Bangun kau, Raja!” mungkin itu yang ada di benak mereka.

Kalau tepukan ranting pohon tidak mempan membuat sang raja terjaga, mereka gunakan amunisi yang lebih keras. Batu dilempar ke arahnya, seakan-akan hukuman rajam bagi raja babun.

Tanpa istirahat yang cukup, mau tidak mau, fisik sang raja kian lemah.

Berikutnya babun-babun muda melancarkan serangan yang lebih gencar. Kaki raja babun yang mulai lunglai ditoreh dengan batu tajam. Darah segar yang mengalir dari kaki raja babun seolah menjadi penyemangat. Luka itu terus dikorek semakin dalam. Sang raja pun menjadi babun tua yang cacat.

Hari demi hari, sang raja terus dipaksa melek. Lukanya tidak boleh sembuh. Ketika raja babun sudah terlihat lemah betul, serangan pamungkas dilancarkan. Raja babun dibunuh beramai-ramai. Babun-babun muda yang perkasa menang.

Tak lama kemudian, babun-babun muda mulai berkelahi. Mereka berebut menjadi raja penerus takhta. Perkelahian terus terjadi, hingga muncul babun paling tangguh sebagai pemenangnya. Dialah raja babun yang baru.

Ada babun-babun yang mengakuinya sebagai pemimpin. Mereka menjadi pengikutnya. Ada yang pura-pura mengakui dan bersedia menjadi rakyatnya. Tetapi ada juga yang melawan atau pergi meninggalkan kelompoknya. Di tengah gejolak ini, raja babun baru mulai membangun kerajaannya.

Awal transisi kepemimpinan tidak pernah berlangsung mulus. Gangguan terus bermunculan. Sampai raja babun yang baru berhasil menunjukkan kekuasaan penuh, yang membuat babun-babun lain takluk kepadanya.

Ada hal menarik yang terjadi bersamaan dengan semua ini. Kalau diperhatikan, mulanya kawanan babun-babun muda ini memiliki wajah dan perawakan yang serupa satu sama lain. Di awal pemerintahan, raja babun yang baru kerap mengalami gangguan dan perlawanan. Ia terus berpikir keras dan bersikap waspada demi mengamankan posisinya. Tantangan pekerjaan seperti ini membawa perubahan hormonal dalam dirinya.

Tampilan fisik sang raja baru berubah. Dadanya kian tegap, tubuhnya jadi lebih kuat. Kerut di dahi dan cambang panjang menghiasi wajahnya. Meskipun tadinya raja babun berperawakan sama seperti rakyat biasa, kini ia terlihat penuh karisma dan bijaksana.


Kisah ini sering aku sampaikan dalam acara bertema kepemimpinan. Atau kalau aku sedang membahas tentang pengembangan karier anak buahku.

Dari kisah nyata di alam ini, kita dapat mempertanyakan: apakah seorang pemimpin memang dilahirkan untuk memimpin? Atau sebenarnya siapa pun bisa menjadi pemimpin, asalkan ia sanggup melewati perjalanan berat yang mengasahnya menjadi seorang pemimpin?

Aku perhatikan, tampilan luar seorang pemimpin biasanya berbeda dengan orang-orang yang dipimpinnya. Sebagian besar pemimpin berbadan lebih besar dan tegap. Atau kalau perawakannya tidak besar, kewibawaannya tetap mudah terlihat. Apakah sejak awal mereka memang begitu adanya? Aku rasa, tidak.

Semua pemimpin mengalami perjalanan berliku yang menempa diri mereka. Stres. Frustrasi. Perjalanan yang penuh dengan “perkelahian,” meskipun tidak seperti kawanan babun yang berkelahi secara fisik.

Manusia modern “berkelahi” dalam bentuk yang lebih beradab, istilahnya: bersaing atau berkompetisi. Kelihatannya lebih santun, walau nyatanya bisa lebih keras dan kejam daripada ulah kawanan babun muda.

Kita harus selalu siap menghadapi persaingan dan menjadi pemenang. Bagi yang kalah, minggirlah dan bersedialah dipimpin. Tidak ada salahnya menjadi bagian dari tim yang dipimpin. Semua punya peran sesuai porsinya.

Menang dalam persaingan dan mendapatkan kepercayaan dari lingkungan kita, berarti kita harus lebih kuat lagi mengasah kemampuan untuk bisa terus memimpin dengan efektif. Sebab, persaingan tidak pernah berakhir saat kita menjadi pemimpin. “Gangguan” akan terus menghampiri, bahkan datang lebih gencar, sejak predikat pemimpin melekat.

Gangguan-gangguan ini merupakan bentuk lain perkelahian. Contohnya, sebelum menjadi pemimpin, kita jarang menerima perlakuan agresif di belakang punggung kita. Tetapi, setelah menjadi pemimpin, gelombang gangguan datang silih berganti seperti terjangan ombak di lautan.

Ada surat kaleng berisi ancaman atau sekadar keluhan. Ada pihak ini-itu datang memeriksa, sekaligus mencari celah kelemahan. Ada juga yang membuat cerita-cerita bohong untuk memutarbalikkan citra kita di mata orang lain. Banyak pihak yang tadinya biasa saja, tiba-tiba menjadi iri. Mereka semua akan terus berusaha menggoyang posisi si pemimpin.

Kalau tidak sanggup menerima perlakuan seperti itu, janganlah menjadi pemimpin. Sebaliknya, kalau kita sudah menjadi pemimpin, kita harus selalu siap dan waspada.

Sampai suatu saat kita pun menjadi seperti raja babun tua dan tidak akan mampu memenangkan persaingan dengan darah muda yang lebih bersemangat.

Miliki Bukunya Sekarang

Dengan Rp89 ribu, dapatkan buku dan bonus CD album original soundtrack Bintang Laut yang Berserak. Gratis ongkos kirim untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Hasil penjualan buku ini akan disumbangkan ke
Yayasan Yatim Piatu Nurul Jalal, Tanjung Priok, Jakarta Utara