Beli Bukunya
Dengarkan Lagunya
  • Explosion

Tangan Tuhan

Yang menghancurkan semua ini adalah tangan Tuhan. Hanya tangan Tuhan pulalah yang akan mampu membangunnya kembali.

Gempa bumi dan gelombang tsunami yang melanda Aceh pada 26 Desember 2004 dan gempa bumi di Nias pada 28 Maret 2005 sungguh dahsyat.

Hampir 140 ribu rumah rusak atau hancur dan lebih dari 70 ribu hektare lahan pertanian hancur. Yang paling menyedihkan, lebih dari 200 ribu orang meninggal dunia atau hilang. Dikatakan ‘hilang’ bukan karena mereka masih hidup. Tidak ada yang tahu nasib mereka. Tetapi mereka juga tidak bisa dikatakan meninggal, selama keluarga yang ditinggalkan masih menyimpan harapan.

Bencana terbesar dalam sejarah manusia modern ini terjadi saat Susilo Bambang Yudhoyono baru dua bulan menjadi Presiden. Aku dimintanya mengepalai badan yang akan memimpin upaya membangun kembali kehidupan di Aceh dan Nias. Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Nanggroe Aceh Darussalam dan Nias namanya.

Untukku, ini adalah tugas maha berat yang tidak pernah ada tandingannya.

Saat Presiden pertama kali menghubungiku, suara hatiku serta merta berkata, aku harus ambil tanggung jawab ini. Tetapi nasihat ibuku-lah yang benar-benar meneguhkan keputusanku.

“Sebagai guru dan pejabat, telah banyak pelajaran dan kebijakan yang kamu buat untuk membantu orang-orang. Namun, inilah kesempatanmu menolong orang-orang yang sedang benar-benar susah, langsung dengan tanganmu sendiri. Pergilah kamu ke sana,” pesan ibuku.

Sesampainya di Aceh, aku melihat kehancuran yang sungguh luar biasa. Sebelumnya aku telah membayangkan kehancuran besar, tetapi kenyataannya jauh lebih dahsyat dibanding bayanganku.

Rasa gamang tak terhindarkan. Apa bisa aku membangun kembali Aceh?

Hari Minggu siang, sekitar seminggu sejak aku menjejakkan kakiku di Serambi Mekah, matahari bersinar terik sekali. Seusai makan siang, aku pikir minum air kelapa yang segar akan sangat melegakan. Aku mengajak istriku dan para deputi BRR mencari air kelapa di sekitar pantai Ulee Lheue.

Di sana kami tertegun melihat kehancuran yang ada. Semakin dekat dengan pantai, semakin luluh lantak segalanya. Tidak ada lagi bangunan atau pepohonan yang berdiri. Daratan yang berjarak hingga enam kilometer dari garis pantai, rata tanah disapu gelombang setinggi dua hingga tiga lantai bangunan.

Di tengah pemandangan yang memilukan itu, ada sebuah gubuk kecil yang dipakai sebagai pos pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K). Akhirnya kami duduk lesehan di gubuk itu sambil minum air kelapa.

Entah dari mana pikiran ini muncul, tiba-tiba saja aku berdiri dan berkata pada rombongan yang ada di sana.

“Kalian lihat sendiri, semuanya hancur. Siapa yang bisa membangunnya kembali? Siapa pun tidak akan mampu menimbulkan kehancuran seperti ini, kecuali Tuhan. Lalu bagaimana kita bisa membangunnya kembali?”

Semua terdiam mendengar kata-kata yang sekonyong-konyong terlontar dari mulutku. Lalu tanpa disadari aku mengangkat tangan kananku dan melanjutkan perkataanku, “Yang menghancurkan semua ini adalah tangan Tuhan. Hanya tangan Tuhan pulalah yang akan mampu membangunnya kembali.”

Sambil mengangkat tanganku lebih tinggi, aku berkata, “Kalau tangan ini akan dipakai oleh Tuhan, maka tangan ini harus bersih dan suci. Kalau tidak, tidak mungkin tangan ini bisa membangun kembali Aceh dengan lebih baik.”

Seolah terhipnotis, di bawah panas terik yang menyengat, semua terdiam.

“Saudara-saudara sekalian, tangan-tangan kecil kita adalah kepanjangan tangan Tuhan. Jangan pernah biarkan tangan kecil ini ternodai dosa. Jangan pernah engkau curi uang rakyat yang sedang menderita. Jangan pernah engkau ambil milik orang.”

“Jagalah kesucian tangan-tangan ini. Sebab, sekali engkau mengotorinya, bukan saja engkau tidak akan bisa membangun kembali Aceh dengan lebih baik, tetapi hukuman yang engkau tanggung akan luar biasa besar,” pesanku seraya menatap mereka.

Semua kata-kata ini keluar dari mulutku tanpa direncanakan. Setiap kali aku mengingat peristiwa di Ulee Lheue ini, badanku bergetar. Aku yakin, perkataanku tidak keluar begitu saja. Ada kekuatan lain yang mendorongku mengatakan semua itu.


Sepanjang perjalanan hidupku, aku berpegang pada satu prinsip: Jangan pernah sekali pun kita menggadaikan integritas demi alasan apa pun.

Integritas itu mutlak. Integritas dibangun terus-menerus di segala kondisi, tanpa henti. Kepercayaan orang lain kepada kita, hanya bisa dibangun sedikit demi sedikit melalui bukti nyata. Tetapi, sekali saja kita mencederai integritas, maka selamanya reputasi buruk melekat.

Sebaliknya, jika jalan kita bersih dari noda integritas, maka kita akan bisa berkiprah dengan leluasa. Bergerak sesuai hati nurani, tanpa perlu terkecoh oleh gangguan-gangguan yang biasa dihembuskan oleh orang-orang yang justru mengambil manfaat dari hal-hal yang tidak pantas.

Pengalamanku di Aceh dan Nias membuktikan hal ini. Prinsip Tangan Tuhan yang terucap spontan itu aku jadikan pegangan saat membangun organisasi BRR dan melaksanakan seluruh pekerjaan di lapangan.

Banyak negara, organisasi kemanusiaan, lembaga swadaya masyarakat nasional dan internasional, serta perorangan turun tangan membantu. Sekeras apa pun kerja kami, tidak mungkin begitu banyak program yang berhasil dilaksanakan, jika tanpa campur tangan Yang Maha Kuasa.

Kalau bukan tangan Tuhan yang bekerja, tidak mungkin kehidupan masyarakat di Aceh dan Nias bisa kembali menggeliat dalam waktu empat tahun pasca bencana.

Dan kalau tangan-tangan kita tidak terjaga kebersihannya, bagaimana mungkin kita bisa membawa kebaikan Tuhan bagi sesama?

Miliki Bukunya Sekarang

Dengan Rp89 ribu, dapatkan buku dan bonus CD album original soundtrack Bintang Laut yang Berserak. Gratis ongkos kirim untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya.

s

Hasil penjualan buku ini akan disumbangkan ke
Yayasan Yatim Piatu Nurul Jalal, Tanjung Priok, Jakarta Utara